Foto saya
Tourism is travel for recreational or leisure purposes. "The trip to and stay in places outside of our usual environment for not more than one consecutive year for leisure, business, refreshment and other purposes.
Tampilkan postingan dengan label adventure. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label adventure. Tampilkan semua postingan

Kamis, 01 Juli 2010

Ujung Kulon exoticism


You want to feel the sensation of the natural forest ambience with a variety of plants and wildlife in it? Or want to enjoy the beauty of the waters with the waves and the charming panorama of the beach? Just come to the Ujung Kulon National Park, Pandeglang, Banten

Tourists can choose a route of Jakarta Jakarta-Serang road-Labuan as far as 120 kilometers long with 4-5 hours of travel. Can also route Jakarta-Cilegon-Labuan as far as 140 kilometers long with 5-6 hours of travel.
If you want to go to Ujung Kulon National Park (TNUK) with a fast boat ride with a capacity of about eight people, visitors can depart from Carita. Fast boat rental rate is Rp 3.5 million per day. Other options, speed motor boats are the transport capacity of about 25 people who set out from wells or Tamanjaya. Cheaper rent rates, ie USD 1.8 million per vessel per day.

Visitors who like to surf the waves can satisfy the high waves in the Gulf island of Panaitan. Beautiful coral reefs can be enjoyed in the marine park and Islands handeuleum Peucang Island.Visitors who are interested in diving can be done in the waters around the island Peucang and the north coast and the eastern island of Panaitan. Or anyone wants to relax in a canoe ride? This slender boats rowing activities can be conducted along the River Cigenter, Pamanggangan River, and Cikabeumbeum.
Scenery on the ground no less charming. Talk about the forest, there is a difference between the forest on the island Peucang and in Ujung Kulon Peninsula. "On the Island can be found Peucang primary forest, whereas in the peninsula is secondary forest," said Dodi Sumardi, employees TNUK Hall
You can see birds of various kinds. It is estimated there are 250 bird species have habitats in national parks so that this becomes the ideal location for bird-watching hobby. If a visit to this garden, do not forget to bring binoculars

For the record, not at any time, visitors can enter the forest of the Ujung Kulon Peninsula, because this area is the habitat of endangered one-horned rhinoceros. Be sure to schedule a visit coincided with a period of not mating rhinos. Schedules and routes these requests must be confirmed first to the National Park Authority in Labuan. In addition, because the location of the park surrounded by waters of the Sunda Strait and the Indian Ocean, the weather factor should really be noted for the sake of safety. Do not force if the bad weather and high waves.

source : http://travel.kompas.com/read/2010/06/26/11103675/Eksotisme.Ujung.Kulon

Sabtu, 22 Agustus 2009

Sortie Adventure 2 Explanation

Why I chose the easiest way, watch this







Sortie Adventure Banten Indonesia 2

Next day we go to fish market labuan Banten, and after lunch we go to Taman Sunda Kelapa Harbour.

Sortie Adventure Banten Indonesia

20 July 2009 arrived at Cengkareng Airport, we go directly to Carita, but we were really unrecognised that time was a holidays. Luckily we have the last 2 rooms in the small guest house, and in the afternoon we did exercise in the beautifful nature "Curug Kendang Carita"

Senin, 15 September 2008

Kasada at Mt Bromo


Masyarakat suku Tengger di Kawasan Gunung Bromo Jawa Timur, Sabtu (13/9) melaksanakan mendak tirta (mengambil air suci ) sebagai awal prosesi upacara yang akan datang nya Kasada yang bakal dilaksanakan 15 September.

Masyarakat suku Tengger yang ada di Wilayah Kabupaten Pasuruan melaksanakan upacara mendak tirta di sumber air Gunung Widodaren yang masih berada dalam kawasan Gunung Bromo.

Masyarakat suku Tengger di wilayah Kabupaten Probolinggo melaksanakan mendak tirta di sumber air terjun Madakaripura Sukapura.

Sedangkan masyarakat suku Tengger di wilayah Lumajang melaksanakan mendak tirta di sumber di Kawasan Pura Senduro Lumajang.

Air suci yang diambil dari berbagai tempat itu kemudian dibawa ke Pura Luhur Poten di Gunung Bromo untuk digunakan sebagai kelengkapan upacara yang akan datang nya Kasada pada 15 September.

Upacara mendak tirta di sumber Gunung Widodaren Pasuruan dipimpin Mangku Prawoto. Air suci yang diambil dari sumber Widodaren kemudian dikirab menuju Pura Luhur Poten di Gunung Bromo disandingkan dengan air suci yang diambil dari tempat lain.

Kepala Desa Wonokitri Kecamatan Tosari Kabupaten Pasuruan, Wartono, pada hari Minggu (14/9) di Pura Luhur Poten Gunung Bromo akan digelar upacara Piodalan.

Wartono menjelaskan, upacara Piodalan sebenarnya bukan merupakan rangkaian prosesi upacara Yadnya Kasada, tapi upacara ulang tahun Pura. Upacara digelar sebagai perwujudan rasa syukur umat Hindu kepada yang Mahakuasa.

Sedangkan prosesi Yadnya Kasada yang dilaksanakan setelah mendak tirta dilanjutkan dengan upacara sameninga yang dilaksanakan pada Senin (15/9).

Upacara sameninga merupakan upacara ritual komunikasi antara umat dengan Tuhan yang menguasai jagat raya. Upacara dilaksanakan di Balai Desa masing-masing hingga sore harinya dilanjutkan upacara Mepek yakni upacara untuk melengkapi segala sesaji untuk keperluan upacara yang akan datang nya Kasada.

Ia menyebutkan kelengkapan sesaji Yadnya Kasada terdiri atas Rakatawang dan Rakagenep. Sesaji yang telah lengkap tersebut kemudian dibawa ke Pura Luhur Poten untuk digunakan sebagai kelengkapan upacara yang akan datang nya Kasada pada hari Senin pukul 24.00 WIB.

Dalam prosesi upacara Yadnya Kasada di tengah malam tersebut dilakukan persembahyangan yang merupakan komunikasi antara umat dengan Tuhannya.

Pada Selasa (16/9) pukul 00.00 WIB diteruskan dengan melarung sesaji ke kawah Gunung Bromo. Sesaji yang dilarung berupa hasil pertanian dan lain-lain yang merupakan hasil pokok masyarakat Suku Tengger yang sebagian besar petani sayur.

Larung sesaji yang merupakan bentuk perwujudan atas rasa syukur umat terhadap sang Hyang Widi Wasa. Sesaji yang dilarung pada peringatan Kasada merupakan perwujudan rasa syukur yang diajarkan Roro Anteng dan Joko Seger yang merupakan cikal bakal suku Tengger di Gunung Bromo.

Jika Roro Anteng dan Joko Seger saat itu harus mengorbankan salah satu anak bungsunya Kusuma, kini suku Tengger melaksanakan korban dengan mengganti berupa hasil sayur mayur yang dihasilkan dari ladang-ladang mereka.

sumber : kompas

kiriman : admirer 44