Tampilkan postingan dengan label culture. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label culture. Tampilkan semua postingan
Kamis, 22 Juli 2010
Tanah Toraja
Destinations Toraja have unique culture not found elsewhere in the world. Toraja has become a favorite tourist destination for European tourists
Source:http://travel.kompas.com/read/2010/07/23/07591827/Tana.Toraja.Butuh.Jaminan.Pencitraan
Labels:
culture
Jumat, 02 Juli 2010
Adat Perkawinan Indonesia di Athena
Performances of traditional wedding enchanting of Sunda and Bangka appeared on the show "Indonesian Traditional Wedding Festival at the Hotel Divani Caravel, AthensSundanese traditional procession began from the event Sungkeman, Saweran, Nincak Endog and Huap environment becomes extraordinary fascination. The sacredness of a wedding procession that was done by a full inspiration to bring the invitation as though it were the real celebration pernikanan. The beauty and uniqueness of custom wedding dresses and accessories of the Sunda and Bangka guests impressed and admired the cultural diversity of Indonesia.
The invitation also was intrigued when before entering the hall to see how batik-matching combined with traditional motifs of batik which accidentally imported from the Pekalongan as tangible evidence of cultural and tourism promotion.
More festive event with a performance of traditional wedding dress from 22 regions by mothers HARPI members.Demonstration opened with a wedding dress Bali region and closed its show with clothes from Papua Rambe Yamko song accompaniment and Gebyar-Gebyar Yamko
While Chairman HARPI Melati (Asosiasi Perias Pengantin Seluruh Indonesia), Ny. Endang Sugiarto Indonesian cultural performances convey that this can be a window for the citizens of Greece and other foreign citizens to directly see the richness and diversity of cultures and traditions of Indonesia.source : http://regional.kompas.com/read/2010/05/30/02470087/Adat.Perkawinan.Indonesia.di.Athena
Labels:
culture
Kamis, 01 Juli 2010
Left at the End of Empire East Bali
The last recorded king until the year 1908 is Ida Anak Agung Gde Djelantik who supervises 21 retainer, ie, Karangasem, Seraya, Bugbug, Ababi, Abang, Culik, Kubu, Tianyar, Pesedahan, Mangosteen, Antiga, Ulakan, Bebandem, Sibetan, Pesangkan, Selat, Muncan, Rendang, Besakih, Sidemen and Talibeng.By Pebancangah Babad Dalem, that since the enthroned King, I Dewa Coral Amla, Regional Municipality Batuaya Amlapura is called the Village. Then switch to the king's throne Ida Anak Agung Agung Ketut Karangasem Anglurah, the palace at Castle Amlaraja, at that time already used the title of Karangasem, which in this case was confirmed by the Charter of the Temple Mount.
By becoming King Anak Agung Gde Agung Gde Putu and Oka, Awig-Awig Village Batuaya converted into Awig-Awig Amlapura. Later in the reign of Anak Agung Gde Jelantik, Amlapura City Area designation was re-called Karangasem as a center of government.
By Decision of Minister of the Interior (Home Affairs), dated November 28, 1970 No. 284 in 1970, starting on August 17, 1970, the capital city of Karangasem changed to Amlapura, returned as a kingdom of Karangasem who reigned in the City of Coral Amla (Amla mean Asem).
Local symbol taken from the symbol of Mount Agung who smoke by forming the island of Bali with Tugu Pahlawan in the middle, surrounded by rice and cotton signifies prosperity symbol with Mount Agung Pura Besakih as a center of Hindu rituals as well as a region has a history of struggle, cheap food and clothing, Gemah Ripah, loh jinawi lava of Mount Agung. While the red line is a symbol of Karangasem ngemong Kreteg in Pura Besakih Kiduling.
While Tirtagangga Park, one of the attractions located in the village Ababi, Abang District. The distance is approximately 5 km to the north of the City Amlapura (district capital), which was built in 1948 by King Anak Agung Agung Ketut Karangasem Anglurah.
From this spring and then the King of Karangasem got the idea to build a theme park because of its natural first supported by the cool air, which later named Park Tirtagangga. Just as with Tama Soekasada Edge, the Tama Tirtagangga have a strong attachment to the Puri Agung KarangasemIn the present work Tirtagangga Park religiously, socially, as well as entertainment. Religiously, the spring in place is being used as holy water for the surrounding community in addition as a place for ceremonies Yadnya and Metirtayatra god.
From Amed tourism attractions we can achieve Soekasada Park Edge with the distance of about 1.5 hours through the east path past the edge of the cliff with the eastern tip of Bali Island which has the exotic scenery along the journey. Waterscape lined loose with dozens of boats or fishermen djoekoeng be an attraction that will not be forgotten with a blend of hilly panorama. In this place a lot of built villa and hotel accommodations and other lodgings that offer a variety of facilities. (Arya Sadhewa)
Labels:
culture
Selasa, 15 Juni 2010
Cap Go Meh Singkawang Menjadi Daya Tarik Wisata
Singkawang, Kompas - Perayaan Cap Go Meh 2561 tahun 2010 ini di Kota Singkawang, Kalimantan Barat, menjadi daya tarik yang luar biasa bagi wisatawan dari luar daerah. Selama beberapa hari, Kota Singkawang dipenuhi wisatawan.
Perayaan Cap Go Meh di Singkawang, Minggu (28/2), dipusatkan di Jalan Diponegoro, dengan acara arak-arakan tatung dari komunitas-komunitas budaya. Tatung adalah orang yang dirasuki roh halus sehingga memiliki kekebalan tubuh dan tidak merasakan sakit saat duduk atau berdiri di atas pedang atau pipi ditusuk bilah-bilah besi panjang.
Ketua Panitia Cap Go Meh Kota Singkawang Lio Kurniawan mengatakan, arak-arakan tatung tahun ini didaftarkan ke Museum Rekor Dunia Indonesia (Muri) untuk memecahkan rekor jumlah tatung terbanyak. ”Jumlah tatung yang mendaftar ke panitia sebanyak 777, tetapi Muri menghitung sendiri saat perarakan dan akan diumumkan pada Minggu malam,” ujar Lio.
Ketua Panitia Cap Go Meh Kota Singkawang Lio Kurniawan mengatakan, arak-arakan tatung tahun ini didaftarkan ke Museum Rekor Dunia Indonesia (Muri) untuk memecahkan rekor jumlah tatung terbanyak. ”Jumlah tatung yang mendaftar ke panitia sebanyak 777, tetapi Muri menghitung sendiri saat perarakan dan akan diumumkan pada Minggu malam,” ujar Lio.
Arak-arakan tatung yang didampingi oleh belasan atau puluhan pengiring dari tiap komunitas mendapatkan perhatian luar biasa dari wisatawan. Para tatung mempertontonkan atraksi kekebalan tubuh. Selama arak- arakan tatung yang diperkirakan disaksikan 200.000 orang itu, lalu lintas dari dan ke Jalan Diponegoro ditutup.
Sebelum perayaan Cap Go Meh, Singkawang ramai dipadati wisatawan karena panitia juga menggelar berbagai acara.
Sekitar 20.000 warga memadati Stadion Kridasana untuk menyaksikan berbagai atraksi, antara lain peragaan busana batik singkawang, pesta kembang api, dan perlombaan karaoke tingkat ASEAN. Selain itu, penyerahan penghargaan Muri untuk lampion raksasa berukuran tinggi 22 meter dan diameter 32 meter serta kue keranjang raksasa dengan berat 8.735 ton.
Di Yogyakarta, aksi naga lampion berwarna kuning keemasan sepanjang 131,05 meter yang meliuk-liuk di ruas Jalan Malioboro menutup acara Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta, 23-27 Februari. Naga yang dilengkapi sekitar 3.000 lampu ini memecahkan rekor naga lampion terpanjang di Indonesia.
Naga lampion diarak bergantian oleh ratusan orang mulai dari Taman Parkir Abu Bakar Ali melalui Jalan Malioboro hingga ke kawasan Titik Nol Kota Yogyakarta, Sabtu (27/2) malam. Acara itu juga dihadiri Gubernur DI Yogyakarta Sultan Hamengku Buwono X serta Wali Kota Yogyakarta Herry Zudianto.
Awalnya, naga lampion itu dibuat sepanjang 126 meter. Namun, setelah diukur oleh tim dari Muri, panjangnya 131,05 meter dan tercatat sebagai naga lampion terpanjang. (aha/ara)
Sumber :http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/03/01/04191450/cap.go.meh.singkawang.menjadi.daya.tarik.wisata
Labels:
culture
Selasa, 29 September 2009
253 th Yogyakarta
Penggarapan pawai yang bertema "Mataraman" menggambarkan sejarah berdirinya Yogyakarta. Berdasarkan sejarah yang terjadi selama ini, Keraton Yogyakarta dianggap memiliki fungsi strategis menjadi pusat sekaligus menjalankan Kontrol sosial atas kelangsungan budaya Jawa.
Baca selengkapnya : http://www.kompas.com/read/xml/2009/09/29/20230634/jangan.lupa.ke.yogya.7-17.oktober
Labels:
culture
Jumat, 11 September 2009
Lumbung Padi Masyarakat Padang
Situs Batu Sangkar
Batu Sangkar adalah sebuah kota kecil yang terletak sekitar 50 km sebelah tenggara Bukittinggi. Batusangkar merupakan pusat dari kebudayaan kuno Minangkabau
Batu Sangkar adalah sebuah kota kecil yang terletak sekitar 50 km sebelah tenggara Bukittinggi. Batusangkar merupakan pusat dari kebudayaan kuno Minangkabau
Labels:
culture
Jumat, 26 September 2008
Rumah Adat dan Penguburan Bayi
Rumah adat Tana Toraja yang disebut Tongkonan ini sangat terkenal dengan bentuk bangunan nya. Atapnya terbuat dari daun nipa atau kelapa dan mampu bertahan sampai 50 tahun. Tongkonan juga memiliki strata sesuai derajat kebangsawanan masyarakat, seperti strata emas, perunggu, besi, dan kuningan.
Seorang pengusaha pariwisata Jepang memboyong 2 Tongkonan ke negeri nya dan dikerjakan oleh orang Toraja sendiri, akan tetapi perbedaanya hanya terletak pada atapnya yang menggunakan daun sagu (rumbia). Kehadiran Tongkonan selalu membuat kagum masyarakat negeri tersebut karena bentuk nya yg unik.
Ada lagi daya tarik Tana Toraja selain upacara adat rambu solo (pemakaman) yang sudah tersohor selama ini. Sebutlah kuburan bayi di atas pohon tarra di Kampung Kambira, Kecamatan Sangalla, sekitar 20 km dari Rantepao, yang disiapkan bagi jenazah bayi berusia 0-7 tahun.
Meski mengubur bayi di atas pohon tarra itu sudah tidak dilaksanakan lagi sejak puluhan tahun terakhir, pohon tempat "menyimpan" mayat bayi itu masih tetap tegak dan banyak dikunjungi wisatawan.
Di atas pohon tarra - yang buahnya mirip buah sukun - dengan lingkaran
batang pohon sekitar 3,5 meter, tersimpan puluhan jenazah bayi. Sebelum jenazah dimasukkan ke batang pohon, terlebih dahulu batang pohon itu dilubangi. Mayat bayi diletakkan ke dalam, lalu ditutupi dengan serat pohon kelapa berwarna hitam. Setelah puluhan tahun, jenazah bayi itu akan menyatu dengan pohon tersebut.
Ini suatu daya tarik bagi para pelancong dan untuk masyarakat Tana Toraja tetap menganggap tempat tersebut suci seperti anak yang baru lahir. Penempatan jenazah bayi di pohon ini, disesuaikan dengan strata sosial masyarakat. Makin tinggi derajat sosial keluarga itu maka makin tinggi letak bayi yang dikuburkan di batang pohon tarra.
Selain itu, bayi yang meninggal dunia diletakkan sesuai arah tempat tinggal keluarga yang berduka. Kalau rumahnya ada di bagian barat pohon, maka jenazah anak akan diletakkan di sebelah barat.
Sementara itu, untuk sampai di Tana Toraja sudah ada jalur penerbangan domestik Makassar-Tana Toraja. Penerbangan ini hanya sekali dalam seminggu dan memakai pesawat kecil berpenumpang delapan orang dengan waktu tempuh hanya 45 menit dari Bandara Hasanuddin Makassar. Dan jika lewat darat, perjalanan yang cukup melelahkan membutuhkan waktu tujuh jam.
O ya disana ada Tongkonan yg sudah berusia 600 th di Londa, Rantepao
www.wisatamelayu.com/id/object.php?a=a0xvL29Ydy9P=&nav=geo
Seorang pengusaha pariwisata Jepang memboyong 2 Tongkonan ke negeri nya dan dikerjakan oleh orang Toraja sendiri, akan tetapi perbedaanya hanya terletak pada atapnya yang menggunakan daun sagu (rumbia). Kehadiran Tongkonan selalu membuat kagum masyarakat negeri tersebut karena bentuk nya yg unik.
Ada lagi daya tarik Tana Toraja selain upacara adat rambu solo (pemakaman) yang sudah tersohor selama ini. Sebutlah kuburan bayi di atas pohon tarra di Kampung Kambira, Kecamatan Sangalla, sekitar 20 km dari Rantepao, yang disiapkan bagi jenazah bayi berusia 0-7 tahun.
Meski mengubur bayi di atas pohon tarra itu sudah tidak dilaksanakan lagi sejak puluhan tahun terakhir, pohon tempat "menyimpan" mayat bayi itu masih tetap tegak dan banyak dikunjungi wisatawan.
Di atas pohon tarra - yang buahnya mirip buah sukun - dengan lingkaran
batang pohon sekitar 3,5 meter, tersimpan puluhan jenazah bayi. Sebelum jenazah dimasukkan ke batang pohon, terlebih dahulu batang pohon itu dilubangi. Mayat bayi diletakkan ke dalam, lalu ditutupi dengan serat pohon kelapa berwarna hitam. Setelah puluhan tahun, jenazah bayi itu akan menyatu dengan pohon tersebut.
Ini suatu daya tarik bagi para pelancong dan untuk masyarakat Tana Toraja tetap menganggap tempat tersebut suci seperti anak yang baru lahir. Penempatan jenazah bayi di pohon ini, disesuaikan dengan strata sosial masyarakat. Makin tinggi derajat sosial keluarga itu maka makin tinggi letak bayi yang dikuburkan di batang pohon tarra.
Selain itu, bayi yang meninggal dunia diletakkan sesuai arah tempat tinggal keluarga yang berduka. Kalau rumahnya ada di bagian barat pohon, maka jenazah anak akan diletakkan di sebelah barat.
Sementara itu, untuk sampai di Tana Toraja sudah ada jalur penerbangan domestik Makassar-Tana Toraja. Penerbangan ini hanya sekali dalam seminggu dan memakai pesawat kecil berpenumpang delapan orang dengan waktu tempuh hanya 45 menit dari Bandara Hasanuddin Makassar. Dan jika lewat darat, perjalanan yang cukup melelahkan membutuhkan waktu tujuh jam.
O ya disana ada Tongkonan yg sudah berusia 600 th di Londa, Rantepao
www.wisatamelayu.com/id/object.php?a=a0xvL29Ydy9P=&nav=geo
Labels:
culture
Senin, 15 September 2008
Kasada at Mt Bromo

Masyarakat suku Tengger di Kawasan Gunung Bromo Jawa Timur, Sabtu (13/9) melaksanakan mendak tirta (mengambil air suci ) sebagai awal prosesi upacara yang akan datang nya Kasada yang bakal dilaksanakan 15 September.
Masyarakat suku Tengger yang ada di Wilayah Kabupaten Pasuruan melaksanakan upacara mendak tirta di sumber air Gunung Widodaren yang masih berada dalam kawasan Gunung Bromo.
Masyarakat suku Tengger di wilayah Kabupaten Probolinggo melaksanakan mendak tirta di sumber air terjun Madakaripura Sukapura.
Sedangkan masyarakat suku Tengger di wilayah Lumajang melaksanakan mendak tirta di sumber di Kawasan Pura Senduro Lumajang.
Air suci yang diambil dari berbagai tempat itu kemudian dibawa ke Pura Luhur Poten di Gunung Bromo untuk digunakan sebagai kelengkapan upacara yang akan datang nya Kasada pada 15 September.
Upacara mendak tirta di sumber Gunung Widodaren Pasuruan dipimpin Mangku Prawoto. Air suci yang diambil dari sumber Widodaren kemudian dikirab menuju Pura Luhur Poten di Gunung Bromo disandingkan dengan air suci yang diambil dari tempat lain.
Kepala Desa Wonokitri Kecamatan Tosari Kabupaten Pasuruan, Wartono, pada hari Minggu (14/9) di Pura Luhur Poten Gunung Bromo akan digelar upacara Piodalan.
Wartono menjelaskan, upacara Piodalan sebenarnya bukan merupakan rangkaian prosesi upacara Yadnya Kasada, tapi upacara ulang tahun Pura. Upacara digelar sebagai perwujudan rasa syukur umat Hindu kepada yang Mahakuasa.
Sedangkan prosesi Yadnya Kasada yang dilaksanakan setelah mendak tirta dilanjutkan dengan upacara sameninga yang dilaksanakan pada Senin (15/9).
Upacara sameninga merupakan upacara ritual komunikasi antara umat dengan Tuhan yang menguasai jagat raya. Upacara dilaksanakan di Balai Desa masing-masing hingga sore harinya dilanjutkan upacara Mepek yakni upacara untuk melengkapi segala sesaji untuk keperluan upacara yang akan datang nya Kasada.
Ia menyebutkan kelengkapan sesaji Yadnya Kasada terdiri atas Rakatawang dan Rakagenep. Sesaji yang telah lengkap tersebut kemudian dibawa ke Pura Luhur Poten untuk digunakan sebagai kelengkapan upacara yang akan datang nya Kasada pada hari Senin pukul 24.00 WIB.
Dalam prosesi upacara Yadnya Kasada di tengah malam tersebut dilakukan persembahyangan yang merupakan komunikasi antara umat dengan Tuhannya.
Pada Selasa (16/9) pukul 00.00 WIB diteruskan dengan melarung sesaji ke kawah Gunung Bromo. Sesaji yang dilarung berupa hasil pertanian dan lain-lain yang merupakan hasil pokok masyarakat Suku Tengger yang sebagian besar petani sayur.
Larung sesaji yang merupakan bentuk perwujudan atas rasa syukur umat terhadap sang Hyang Widi Wasa. Sesaji yang dilarung pada peringatan Kasada merupakan perwujudan rasa syukur yang diajarkan Roro Anteng dan Joko Seger yang merupakan cikal bakal suku Tengger di Gunung Bromo.
Jika Roro Anteng dan Joko Seger saat itu harus mengorbankan salah satu anak bungsunya Kusuma, kini suku Tengger melaksanakan korban dengan mengganti berupa hasil sayur mayur yang dihasilkan dari ladang-ladang mereka.
sumber : kompas
kiriman : admirer 44
Minggu, 14 September 2008
Toraja "Indonesian's Tourism Icon"
The word Toraja comes from the Bugis language's to riaja, meaning "people of the uplands". The Dutch colonial government named the people Toraja in 1909. Torajans are renowned for their elaborate funeral rites, burial sites carved into rocky cliffs, massive peaked-roof traditional houses known as tongkonan, and colorful wood carvings. Toraja funeral rites are important social events, usually attended by hundreds of people and lasting for several days.
Before the 20th century, Torajans lived in autonomous villages, where they practised animism and were relatively untouched by the outside world. In the early 1900s, Dutch missionaries first worked to convert Torajan highlanders to Christianity. When the Tana Toraja regency was further opened to the outside world in the 1970s, it became an icon of tourism in Indonesia: it was exploited by tourism developers and studied by anthropologists. By the 1990s, when tourism peaked, Toraja society had changed significantly, from an agrarian model — in which social life and customs were outgrowths of the Aluk To Dolo—to a largely Christian society.
Labels:
culture
Langganan:
Postingan (Atom)






